Sabtu, 30 Juli 2011

PERKEMBANGAN WAYANG KULIT PURWA DI MAJALENGKA


Tinjauan Historis
Wayang kulit telah ada sejak masa pemerintahan Sri Maharaja Lokapala Hariwangsa Tunggadewa. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan tahun 840 M. Prasasti lainnya yang menyebut adanya wayang kulit adalah prasasti yang berangka tahun 907 ketika Diah Balitung memerintah Mataram I.
Di Jawa, wayang kulit dikenal masyarakat pada masa pemerintahan Raja Airlangga sekitar abad XI. Pada masa pemerintahan Raden Fatah (Demak) wayang kulit pernah dilarang, karena wajahnya seperti manusia. Agar wayang tetap hidup, para wali bersepakat membuat bentunya yang baru, terbuat dari kulit yang sangat sederhana.
Sunan Kalijaga kemudian mengusulkan agar wayang kulit menjadi media syiar Islam. Di samping itu bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan kepada dewa-dewa dalam agama Hindu. Karakteristik tokoh pendeta yang ada pada Mahabarata dirubah, sehingga masyarakat beralih pandang dan bersedia masuk agama Islam.
Seiring dengan upaya penyebaran agama Islam, wayang kulit masuk ke wilayah Cirebon dan sekitarnya. Imbas dari penyebaran agama Islam melalui Cirebon itu akhirnya sampai juga di wilayah Majaléngka, dan berkembang pesat pada tahun 1960-an. Wayang kulit yang berkembang di Majaléngka terutama tersebar di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Cirebon dan Indramayu, seperti Jatitujuh, Jatiwangi, dan Sumberjaya.
Terdapat beberapa pebedaan antara wayang kulit yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya dengan wayang kulit di Yogyakarta, antaranya :
1. Bentuk tokoh lakon Mahabarata dan Ramayana yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya cenderung sama dengan yang berkembang di Demak.
2. Tokoh panakawan di wilayah Cirebon, Indramayu dan Majalengka terdapat 9, yaitu Semar, Gareng, Dawala, Sekarpandan, Bagong (Astrajingga), Cungkring, Bitarita, Ceblok, dan Bagalbuntung. Sedangkan di Yogyakarta hanya empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
Perkembangan wayang kulit di Majaléngka tidak bisa lepas dari nama Sunan Kalijaga dengan sebutan Pangéran Panggung sebagai cikal bakalnya. Di bawah adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam mengembangkan wayang kulit.
1. Pangéran Panggung (Sunan Kalijaga)
2. Pangéran Canggah Kawi
3. Pangéran Surapringga
4. Kidar
5. Kintan
6. Kaca
7. Gunteng (Gendut)

8. Keling (Karep), yang satu ini merupakan dalang Keraton Kasepuhan Cirebon. Ia juga mendapat julukan Ngabei Kertaswara atau Embah Bei.
9. Patut
10. Candra / Suwati
11. Supena
12. Dana
13. Suta
14. Karma Al HB



PAK KARTA, DALANG WAYANG KULIT ASAL BONGAS, MAJALENGKA



Waditra dan Tata Cara Pertunjukan
Pergelaran wayang kulit biasanya menggunakan layar atau kain putih membentang di bagian depan panggung. Di belakang layar dipasang lampu blencong (dalung), penonton dapat melihat bayangan wayang kulit di layar bagian depan ketika wayang kulit dimainkan.
Waditra pengiring wayang kulit adalah seperangkat gamelan berlaras pelog yang terdiri dari : gendang, kulanter, bedug, saron, peking, selentem, gong, kempul, panerus, kenong, jengglong, ketuk, gambang, kecrek, kamanak, dan suling. Adapun personil pergelaran wayang kulit adalah dalang, pemain gamelan (nayaga), sinden, alok, dan catrik (pembantu dalang).

Sebelum pergelaran dimulai, dalang membakar dupa dan membacakan do’a, memohon lindungan dari Tuhan Yang Mahakuasa dan restu dari para ‘karuhun’, agar diberi kekuatan, kecemerlangan berpikir, kefasihan berbicara, dan terutama sekali, keselamatan pertunjukan sejak awal sampai akhir.
Dalam praktiknya, selain sebagai tontonan, wayang kulit juga befungsi sakral, sering dimainkan dalam acara-acara upacara adat, seperti Muludan, Mapag Sri, dan Ngaruat. Untuk keperluan upacara adat, biasanya diperlukan pelengkap berupa sesajian, berupa rujak dan makanan lainnya. Waktu Pabrik Gula Kadipaten masih aktif, wayang kulit menjadi salah satu hiburan wajib yang dipertunjukkan di salah satu sudut lokasi pabrik. Di beberapa tempat, misalnya di Sidamukti, wayang kulit masih sering digelar terutama untuk acara ngaruat. Di Karayunan dan di beberapa daerah di wilayah utara Majaléngka, wayang kulit masih memiliki banyak penggemar.

Prospek dan Pembinaan
Dalam sebuah kesempatan wawancara, Sukarta, salah seorang tokoh pedalangan wayang kulit purwa di Majaléngka mengemukakan harapan, bahwa seyogyanya wayang kulit kembali ‘dihidupkan’. Ia berpendapat, sebenarnya sebagian besar masyarakat Majaléngka menggemari wayang kulit. Kuncinya adalah adanya perhatian dari pemerintah daerah terhadap kesenian wayang kulit. Misalnya dengan menganjurkan kembali pelaksanaan upacara adat yang di beberapa tempat sudah mulai ditinggalkan. Upacara adat seperti muka tanah, mapag sri (saat mau panén), dsb. minimal membutuhkan pertunjukan wayang kulit, walau hanya untuk satu kali dalam satu tahun. Daerah yang masih melakukan upacara adat demikian adalah Sidamukti dan Ligung. Di dua daerah ini wayang kulit masih dibutuhkan.
Pembinaan yang dilakukan antara lain melaksanakan pergelaran secara berkala, atau melaksanakan ajang binojakrama seperti yang pernah dilakukan pada bulan Juni tahun 2007. Dari ajang tersebut diketahui, ternyata di Majaléngka potensi pedalangan wayang kulit masih cukup baik.
Berikut beberapa dalang dan nama grupnya yang masih eksis di Majaléngka :
1. Renda, Ringgit Purwa, di Cicurug, Majaléngka.
2. Sukarta, Panggelar Budi, di Bongas, Sumber Jaya (Juara Umum Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1993).
3. Eye Rosdiana, Panca Darma, Sindangwasa, Palasah (Juara 1 Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1995).
4. Eman di Cicurug, Majalengka
5. Yono Dana Muda, Gaya Mekar, di Ranji, Dawuan
6. Edi Permana, Sri Sejati, di Balida, Dawuan (Juara II Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka)
7. Parta Suwandana. Gaya Pribadi, di Loji, Palasah
8. Oong Kertaswara, Pancaroba, di Balida, Dawuan
9. Ita Karwita, di Randegan, Jatitujuh (Juara III Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007)
10. Waskita, di Iser, Leuwimunding (Juara I Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka)
11. Anom Suhadi, di Jatitengah, Jatitujuh (masih berusia 15 tahun, tercatat sebagai peserta termuda Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar